Selasa, 11 Oktober 2016

sonia desvita

Saat itu suasana sekolah masih bebas dan masih berbau lebaran, setelah pulang sekolah ini aku dan teman ku berencana pergi ke toko buku untuk membeli novel. Ya, aku suka sekali membaca novel, lemari belajar ku sudah penuh dengan buku tersebut.
 "Dari mana son? tumben pulang sekolah nya telat."
 "Iya bu, aku abis beli novel dulu."
 "Hmm. sini nak ibu pengen bicara dulu sebentar." Aku segera menghampiri ibu ku dan duduk di samping nya. "ada apa bu?"
 "Son, ayah mu sedang sakit parah. kamu tau itu kan? Ia sudah tidak bekerja, jujur saja ibu tidak bisa membiayai mu untuk sekolah. Maaf kan ibu nak, ibu tidak punya pilihan."
"Tapi kan bu, aku masih ingin sekolah, aku masih ingin belajar. Suatu saat nanti aku ingin sukses ingin membahagiakan ibu dan ayah. Aku sempat bermimpi setelah lulus sekolah aku ingin melanjut kan kuliah di universitas padjajaran, Itu kampus Favorite ku bu."
 "Ibu mengerti itu. Nak, kita buat makan saja susah. apa lagi ini kamu ingin kuliah, Sadar lah nak kita ini dari keluarga sederhana." "memang nya kenapa? memang salah ya kalo orang miskin bermimpi." Aku langsung pergi ke kamar ku dengan wajah kecewa, aku memikirkan apa yang di katakan oleh mamah barusan. Aku kasian dengan kondisi keluarga ku yang serba sederhana tapi bagaimana dengan mimpi-mimpi ku yang sudah ku rangkai?



 *1 minggu kemudian*




 Aku sudah tidak pernah sekolah lagi. sedih,kecewa,sakit yang kurasakan ketika aku berhenti sekolah. "Maaf kan ibu nak, ibu terpaksa."
 "Tidak mengapa bu, Yang terpenting ibu dan ayah sehat."
 "kamu memang anak yang baik, ibu bangga." Aku hanya tersenyum kepada ibu dan pergi ke kamar ku. "aku harus kuat, meskipun hati sangat sulit untuk menerima semua ini."
 Tiba-tiba hp ku berbunyi, ada nama nenek di layar hp ku. Lama sekali aku berbincang dengan nenek melalui telpon genggam ini, nenek menanyakan bagaimana tentang sekolah ku. awal nya aku hanya diam, Tapi aku tidak bisa berbohong. Aku ceritakan semua nya bahwa aku telah berhenti sekolah. Terdengar oleh ku bahwa nenek sedang menangis ketika tau semuanya yang telah terjadi.           "Nenek kenapa nangis?"
"Nenek gak apa-apa ko, kamu masih pngen sekolah son?"
 "Tentu saja masih ingin sekolah nek, Tapi apa daya? ayah sama ibu tidak sanggup lagi membiayai sekolah ku. aku bisa makan saja sudah bersyukur."
 "Nenek akan berusaha supaya kamu tetap sekolah son, nenek akan menjual harta nenek satu satu nya. nenek akan menjual kebun nenek, kamu tidak usah memikirkan yang lain-lain. kamu harus tetap sekolah, wujudkan lah mimpi mu."
 Aku sangat senang sekali, saking senang nya air mata ku jatuh. "Terimakasih nek sudah mendukung aku, ya sudah nek, aku mau belajar dulu. asalamualikum wr wb."
 "walaikumsalam wr wb." Setelah selesai berbincang dengan nenek aku segera membuka buku dan belajar dengan penuh semangat. Keesokan hari nya aku kembali ke sekolah aku benar-benar sangat senang sekali. "Loh kok mau kemana son?"
 "ibuuu. aku senang sekali, kemarin aku telponan sama nenek, kata nenek dia akan membiayai kebutuhan sekolah ku. aku berterimakasih sekali sama nenek bu." Aku melihat ada kesedihan di raut wajah ibu setelah ku ceritakan semuanya. "maaf kan aku mah, aku selalu menyusahkan mu." Kalimat itu terdengar pelan2 keluar dari mulut ibu, tapi aku tetep mendengar nya
. "ibu kenapa? ibu gak seneng ya aku masih bisa sekolah."
 "Tidak sayang, ibu senang sekali. kamu begitu semangat untuk sekolah, bangga kan orang disekitar mu ya nak."
 "iya ibu aku janji."



 *1 tahun kemudian*



 Sekarang aku duduk di kelas 3 SMA, dan sebentar lagi aku akan menghadapi ujian nasional. Semua teman-teman ku sudah berencana untuk melanjut kan kuliah dengan bermacam-macam universitas yang mereka ingin kan. "Son, kamu mau lanjut kuliah dimana?"
 "Universitas padjajaran adalah impian ku, Tapi... ah sudahlah aku tidak mungkin masuk universitas itu, untuk bisa sekolah saja aku bersyukur sekali." Tiba-tiba..
 "Eh orang kampung kaya lo itu gak pantes untuk kuliah apalagi di UNPAD, eohh." Dia serly, Dia adalah orang yang narsis di sekolah ku, aku tidak tau mengapa dia begitu membenci ku.
 "Lo itu kenapa sih suka gangguin temen gue?"
 "Eh felicia, ngapain sih lo mau aja maen sama anak kampungan kaya si sonia ini, gak level kali." Aku segera mengajak felicia untuk pergi dari tempat itu.
 "Woo, dasar rakyat jelata. felicia udah jangan maen sama dia, nanti ketularan miskin Lho, hahahaha." Aku sama felicia tidak mendengar kan apa yang dibicarakan oleh serly.
 "Son, dia tuh bener2 euhh bikin naek darah."
 "jangan marah2, nanti cepet tua lho. hehe, lagian aku biasa ko di giniin, aku memang miskin beda dari yang lain nya." "kamu sabar ya son."
 "iyaa, tenang aja. gapapa kali, yuk belajar ke perpustakaan."
 "OK."    
 Setelah pulang sekolah, aku melihat di depan rumah ku ada bendera kuning, itu artinya ada yang meninggal. Aku berlari-lari menuju rumah ku untuk mengetahui apa yang telah terjadi, aku melihat di sana ada nenek sedang menangis tersedu-sedu. "nenek ko ada disini? apa yang telah terjadi nek, aya sama ibu mana? Nenek tidak menjawab pertanyaan ku, Ia terus menangis, Hatiku semakin berdebar tubuhku sangat lemas.
 "Ayah sama ibu mu tewas tertabrak mobil, ketika ibumu mengaantar ayah kerumah sakit." Tubuhku semakin lemas, aku menangis sejadi-jadi nya. Aku tidak pernah membayang kan ketika aku harus hidup di dunia tanpa kedua orang tua ku.
 "sabar son, nenek mengerti apa yang kamu rasakan sekarang, nenek akan menemani mu son."
 Aku menghiraukan apa yang dikatakan oleh nenek, Saat itu aku benar terpukau rasa nya aku ingin mati saja bersama ayah dan ibu ku. Ya alkah.. mengapa kau memberikan semua cobaan ini kepada ku? apa salah ku? aku memeluk jenazah kedua orang tua ku. Aku benar-benar tidak sanggup menerima semua kenyataan ini.


 *1 bulan kemudian*


 Sekarang nenek tinggal bersamaku dan menemaniku, aku sudah mengikhlaskan atas kematian kedua orang tua ku, aku mengerti bahwa setiap manusia akan meninggal pada waktunya. tidak terkecuali dengan kedua orang tua ku, mungkin mereka sudah bahagia di sisi allah swt. Kini saat nya aku menghadapi ujian nasional, nenek selalu memotivasi ku supaya aku tetap semangat untuk belajar dan meraih impian ku. Aku terus belajar dengan sungguh-sungguh, Hari hari ku aku habiskan untuk belajar, semangat ku kembali bangkit. Dan tiba waktunya UN, aku berdoa kepada allah swt supaya aku lulus dengan nilai baik, tidak lupa aku meminta doa kepada nenek ku. aku tidak begitu sulit untuk mengerjakan soal karna aku sudah mempersiapkan kan semuanya. Ujian nasional sudah berakhir, ketika aku sedang membaca novel di perpus. guruku memanggil aku untuk menghadap ke ruangan kepala sekolah. Aku bingun, aku gelisah, ada apa kepala sekolah memanggil ku. Tidak berpikir panjang, aku segera menemui beliau. 
 "Kamu yang namanya Sonia Desvita kelas XII ips 1 ?"
 "Iya pak, maaf. memang nya ada apa pak?" "SELAMAT!!."
 "selamat untuk apa pak?"
 Aku semakin penasan ketika bapak kepala sekolah mengucapkan selamat kepada ku.
 "SELAMAT! kamu mendapat kan beasiswa di universitas padjajaran, ada 3 orang di sekolah ini yang mendapat kan beasiswa di universitas tersebut. kamu di antara nya." Aku sangat senang sekali setelah mendengar kalimat itu, aku sungguh bersyukur kepada allah swt.
 "apa? ini gak mimpi kan pak?"
 "Tidak, ini bener2 nyata. sekali lagi saya ucap kan selamat." 
"Alhamdulilah, terima kasih ya allah. terimakasih kasih banyak pak."
Aku segera pulang kerumah dengan wajah yang gembira, akhirnya perjuangan ku selama ini tidak sia-sia.
 "nenek, aku bawa kabar gembira."
 "ada apa son? tarik napas dulu, nih minum dulu."
 "aku dapat beasiswa di universitas ternama di kota bandung nek."
 "alhamdulillah, akhirnya perjuangan mu tidak sia sia, orang tua mu pasti bangga. terus lah bermimpi." Aku benar-benar bahagia. Aku akan terus berjuang untuk meraih mimpi ku, kini aku kuliah di universitas padjajaran fakultas sastra bahasa inggris.



 Berusaha adalah kunci keberhasilan, teruslah berjuang demi untuk mencapai tujuan mu.
 Kerja keras tidak akan menghianati, Allah maha adil. So, keep spirit. Because You Can Do It!!!

 Sekian..

 Thanks for reading..
 Created by : SONIA DESVITA